Meraih Predikat Khairun Nisa (wanita terbaik)

Harkat manusia dalam Islam tidak dibedakan oleh kekayaan, keturunan, apalagi oleh jenis kelamin pria ataukah wanita, Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (QS Hujurat 13)


وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf (QS Al-Baqarah 228)

Pandangan miring tentang Islam yang dicurigai mengesampingkan wanita, sama sekali tidak benar, Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya:


أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Bahwasanya Jahimah mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, saya hendak ikut berperang, saya datang untuk bermusyawarah denganmu.” Beliau bersabda: “Apakah kamu masih punya ibu?” Beliau menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Tinggal-lah bersamanya, sesungguhnya surga di bawah kedua kakinya.”
(Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 7833)


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من ابتلي من هذه البنات بشيء فأحسن إليهن كن له سترًا من النار » (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa yang di beri beban dengan mengurusi anak perempuannya, lalu ia berbuat baik kepadanya, maka mereka akan menjadi hijabnya dari api neraka”. (Riyadhus shalihin di dalam bab Mulaathafatul yatim wal banaat hadits no: 8-9)

Begitu mulianya harkat Ibu, dan anak perempuan dalam islam tersebut mengandung pengertian bahwa ada kekhususan mengenai wanita, yakni bahwa wanita adalah makhluk mulia, yang harus dimuliakan utamanya oleh dirinya sendiri, sehingga wajib baginya menjaga kemuliaan dirinya, agar pantas dimuliakan oleh orang lain utamanya putera-puteranya.

Wajib baginya menjaga tutur kata, perbuatan, pergaulan, pemikiran agar senantiasa predikat mulia tadi selalu disandangnya, agar tidak jatuh pada golongan yang dihinakan Allah SWT. Dalam hadits disebutkan:


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abdullah (bin Umar) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan gharib.” (HR.Tirmidzi No.1093)


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا كُلَّهَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman: “Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita Shalihah.” (HR. Nasa’i No.3180)

Maka yang pertama harus disadari oleh wanita adalah martabatnya sebagai perhiasan mulia dunia, jika dia memuliakan dirinya, dengan tidak mengumbar aurat, bergaul bebas dengan bukan makhramnya. Serta wajib baginya mendidik putera-puteranya agar bertaqwa kepada Allah, serta mendampingi dan menasehati suami agar senantiasa dalam taat kepada Allah.


فَقَالَ لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

“Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan isteri mukminah yang menolong salah seorang dari kalian dalam urusan akhiratnya.” (HR. bnu Majah No.1846)

Sehingga wajib pula bagi masyarakat Islam membuat lingkungan yang mendukung bagi wanita untuk meraih predikat shalihah, dengan menyediakan kegiatan-kegiatan yang memancing wanita untuk mau menjaga diri, meningkatkan potensi, dan berpartisipasi dalam jihad fisabilillah.