Perang Khandaq – bag. 5

Nu’aim bin Mas’ud menyatakan keislamannya

Pada suatu hari salah seorang dari pasukan banu Ghathafan yang ikut menjadi tentara Ahzab yakni Nu’aim bin Mas’ud secara sembunyi-sembunyi menemui Nabi SAW. Nu’aim pada waktu itu sebenarnya sudah memeluk agama Islam, tetapi belum diketahui oleh kaumnya. Maka setelah ia menghadap Nabi SAW lalu berkata :

يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنّى قَدْ اَسْلَمْتُ وَ اِنَّ قَوْمِى لَمْ يَعْلَمُوْا بِاِسْلاَمِى، فَمُرْنِى بِمَا شِئْتَ

Ya Rasulullah, sesungguhnya saya telah memeluk Islam, tetapi kaum saya belum ada yang mengetahuinya, maka dari itu perintahlah aku dengan apa yang engkau kehendaki. [Ibnu Hisyam 4 : 188]

Nabi SAW percaya bahwa Nu’aim telah menganut Islam dengan tulus ikhlash, maka beliau lalu bersabda :

اِنَّمَا اَنْتَ فِيْنَا رَجُلٌ وَاحِدٌ، فَخَذّلْ عَنَّا اِنِ اسْتَطَعْتَ، فَاِنَّ اْلحَرْبَ خُدْعَةٌ

Sesungguhnya kamu hanya seorang diri, termasuk golongan kami, maka dari itu lemahkan mereka itu agar tidak memerangi kami jika kamu mampu. Karena sesungguhnya peperangan adalah tipu daya.  [Ibnu Hisyam 4:188]

Dengan adanya perintah Nabi SAW tersebut, kemudian Nu’aim bin Mas’ud pergi kepada kaum Yahudi Banu Quraidhah. Perlu diketahui bahwa di masa Jahiliyah Nu’aim bin Mas’ud mempunyai hubungan yang erat dengan mereka. Nu’aim lalu berkata, “Kalian telah mengetahui kesetiaanku kepada kalian, terutama antara kita ini”. Mereka menjawab, “Benar, dan antara kita tidak ada prasangka buruk”. Nu’aim berkata, “Sesungguhnya orang-orang Quraisy dan Ghathafan, mereka itu tidak seperti kalian. Negeri ini adalah negeri kalian, di dalamnya ada harta benda, anak-anak dan istri-istri kalian. Dan kamu sekalian tidak bisa pindah ke negeri lain. Sedangkan orang-orang Quraisy dan Ghathafan, mereka itu datang untuk memerangi Muhammad dan pengikutnya, padahal kalian membantu mereka untuk hal itu. Negeri mereka, harta benda mereka dan istri-istri mereka di negeri lain, maka mereka itu tidak seperti kalian. Jika mereka mendapat kemenangan, mereka akan menjarah barang-barang dan membawanya ke negeri mereka. Tetapi jika mereka mendapat kekalahan, mereka akan lari ke negeri mereka dan meninggalkan kalian sendirian, padahal jika kalian ditinggal mereka pulang ke negerinya, kalian tidak mampu melawan Muhammad dan pengikutnya. Maka janganlah kalian terus-menerus membantu mereka  untuk memerangi Muhammad dan pengikutnya, kecuali jika mereka mau menyerahkan beberapa orang dari ketua mereka sebagai jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkan kalian sebelum perang selesai”.

Setelah mendengar usul yang dikemukakan Nu’aim itu kaum Yahudi banu Quridhah lalu menyahut, “Sungguh, pendapatmu itu sangat baik”.

Setelah berhasil mempengaruhi kaum Yahudi banu Quraidhah, Nu’aim lalu berangkat ke tempat perkemahan musyrikin Quraisy, mendatangi kepala-kepala mereka, dengan tujuan yang sama. Oleh karena kaum Quraisy pun belum mengetahui bahwa Nu’aim telah menjadi pengikut Islam, bahkan pada lahirnya termasuk salah seorang dari balatentara Ahzab yang memerangi kaum muslimin, maka kedatangannya disambut dengan baik oleh mereka.

Kemudian Nu’aim bin Mas’ud berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan para pembesar Quraisy : Sungguh kamu sekalian telah mengetahui kesetiaanku kepada kalian, dan permusuhanku kepada Muhammad. Sesungguhnya telah sampai kepadaku suatu berita yang harus aku sampaikan kepada kalian. Dan hal itu semata-mata nasehat untuk kalian, maka kalian harus merahasiakannya. Mereka menjawab, “Ya, akan kami lakukan”. Nu’aim berkata, “Ketahuilah bahwa orang-orang Yahudi banu Quraidhah telah merasa menyesal terhadap apa yang mereka perbuat yaitu membantu kalian dalam memerangi Muhammad, dan mereka telah mengirimkan utusan kepada Muhammad dengan menyatakan : Sesungguhnya kami merasa menyesal atas apa yang kami perbuat, maka apakah engkau setuju apabila kami menangkap para pembesar Quraisy dan Ghathafan lalu kami serahkan kepadamu supaya engkau penggal leher-leher mereka ?”.

Dan Muhammad pun telah menjawab, “Ya. Maka jika nanti orang-orang Yahudi Banu Quraidhah mengirimkan utusan untuk meminta beberapa orang dari kalian sebagai jaminan, janganlah engkau serahkan seorangpun kepada mereka”.

Kemudian dari tempat perkemahan kaum Quraisy itu Nu’aim berangkat ke tempat perkemahan banu Ghathafan. Setibanya disana, ia menemui para pemimpinnya. Lalu ia mengemukakan kepada mereka seperti yang telah dikemukakan kepada ketua kaum Quraisy. Akhirnya segala apa yang dikemukakan Nu’aim itu diterima dengan baik dan mendapat perhatian sepenuhnya oleh para kepala kaum banu Ghathafan.

Untuk menyatakan benar atau tidaknya perkataan-perkataan yang dikatakan Nu’aim bin Mas’ud kepada para pemuka Quraisy dan para pemuka banu Ghathafan itu, maka kaum Quraisy dan kaum banu Ghathafan menyuruh seorang gembong musyrikin Quraisy yang bernama ‘Ikrimah bin Abu Jahl beserta beberapa orang dari golongan Quraisy dan golongan banu Ghathafan untuk datang menemui Ka’ab bin Asad kepala kaum Yahudi banu Quraidhah, untuk menyampaikan pesan Abu Sufyan.

Setelah ‘Ikrimah bertemu dengan Ka’ab, ia berkata, “Kami atas nama kaum Quraisy dan banu Ghathafan akan menyampaikan harapan kami kepada tuan. Kami sudah lama melakukan pengepungan atas diri Muhammad dan kaum pengikutnya, dan kami selama ini selalu menantikan kesanggupan tuan untuk mengadakan serangan terhadap mereka. Oleh karena itu, kami telah mengambil keputusan, bahwa besok pagi tuan supaya mulai melakukan serangan atas mereka, dan kami akan bersama-sama tuan, karena kini sudah saatnya mereka harus dihancurkan”.

Karena pada hari itu hari Jum’at, maka Ka’ab menjawab, “Besok adalah hari Sabtu sedang pada hari Sabtu, bagi kami adalah suatu hari yang dilarang dipergunakan untuk mengerjakan sesuatu apapun, selain beribadah, apalagi untuk berperang. Dan dalam hal itu kami tidak mau bersama-sama kalian memerangi Muhammad sehingga kalian menyerahkan beberapa orang kepada kami sebagai jaminan hingga kita berhasil menghancurkan Muhammad. Karena kami khawatir jika perang itu betul-betul terjadi, lalu kalian pulang ke negeri kalian dengan meninggalkan kami begitu saja”.

Setelah para utusan itu kembali dan menyampaikan jawaban dari banu Quraidhah tersebut, maka orang-orang Quraisy dan Ghathafan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya yang disampaikan oleh Nu’aim bin Mas’ud kepada kalian adalah benar”.

Kemudian golongan Quraisy dan Ghathafan mengirim utusan lagi untuk memberi jawaban, “Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak akan menyerahkan seorang pun kepada kalian. Jika kalian ingin berperang, maka berperanglah sendiri !”.

Kemudian para ketua banu Quraidhah berkata, “Sesungguhnya yang disampaikan oleh Nu’aim bin Mas’ud kepada kalian adalah benar. Mereka itu hanya ingin berperang, jika mendapat kemenangan, mereka akan membawa barang-barang jarahan ke negeri mereka. Tetapi jika mereka mengalami kekalahan, mereka akan lari ke negeri mereka dan meninggalkan kalian sendirian di negeri kalian”.

Kemudian banu Quraidhah mengirimkan utusan untuk menyampaikan balasan kepada kaum Quraisy dan Ghathafan, “Sesungguhnya kami, demi Allah tidak akan memerangi Muhammad bersama-sama kalian sehingga kalian mau menyerahkan jaminan kepada kami”.

Oleh karena kaum Quraisy dan kaum banu Ghathafan tidak bersedia dan tidak mau memenuhi permintaan kaum Yahudi banu Quraidhah, maka akhirnya keluarlah kaum Yahudi banu Quraidhah dari persekutuan balatentara Ahzab. Dengan pengunduran diri kaum Yahudi banu Quraidhah itu, maka tentara Ahzab tinggal kaum Quraisy dan kaum banu Ghathafan. Abu Sufyan dikala itu selaku panglima tertinggi dari pasukan Ahzab tetap akan melaksanakan rencana menggempur kota Madinah dan melakukan penyerangan secara besar-besaran terhadap kaum muslimin. Oleh karena itu, maka ia melanjutkan pembicaraannya dengan para ketua kaum banu Ghathafan.

Kaum banu Ghathafan waktu itu sudah timbul perasaan ragu-ragu dan berat untuk bergerak menyerang kaum muslimin, karena mereka masih berharap sepertiga dari hasil kurma Madinah yang pernah dijanjikan oleh Nabi SAW kepada mereka.

Datangnya pertolongan Allah.

Setelah tentara Islam menderita berbagai kesulitan dan kesengsaraan selama beberapa minggu karena pengepungan tentara musyrikin, dengan tidak disangka-sangka datanglah pertolongan Allah.

Pada siang hari terjadi perpecahan antara kaum banu Quraidhah dengan kaum Quraisy dan kaum banu Ghathafan, dan juga antara kaum Quraisy dengan kaum banu Ghathafan, yang semuanya itu berakhir dengan kembali ke tempat masing-masing dengan perasaan tidak senang diantara mereka, maka pada malam harinya datanglah suatu bencana kepada mereka.

Pada malam itu datanglah angin taufan yang amat hebat, udara sangat dingin dan disertai hujan yang lebat, kilat dan petir sambar-menyambar dengan gemuruh, dan perkemahan tentara Ahzab diserang angin taufan disertai debu dan pasir. Kubu-kubu dan kemah-kemah mereka satu persatu rebah ditumbangkan angin, lampu-lampu penerangan mereka pun padam sehingga menyebabkan keadaan bertambah gelap gulita. Suasana semakin mencekam, alat-alat perbekalan mereka menjadi berantakan, kocar-kacir terlempar kesana-kemari, binatang-binatang kendaraan mereka bubar berlari-lari, sehingga mereka bertambah gentar dan takut. Angin badai berlangsung terus-menerus menimpa tempat-tempat perkemahan mereka, akibatnya mereka menjadi kacau-balau.

Dalam kekalutan, kekacauan dan keributan yang ditimbulkan oleh badai, hujan, kilat dan halilintar yang menyambar-nyambar itu, seorang pembersar Quraisy yang turut dalam angkatan perang itu, yakni Thulaifah bin Khuwailid menemui para kawannya yang sedang dalam ketakutan. Ia menyatakan pendapatnya dan mengajak kepada para kawannya supaya meninggalkan kemahnya yang dipandang sial itu. Ia berkata, “Hai para tentara Quraisy, di sini Muhammad telah mulai menjatuhkan siksanya atas kamu, maka dari itu sekarang ini juga jagalah keselamatan dirimu masing-masing. Sekali lagi, jagalah keselamatan dirimu masing-masing !”.

Abu Sufyan, selaku panglima tertinggi mereka berkata, “Hai kaum Quraisy, sesungguhnya sekarang ini di sini bukan tempat tinggal yang aman. Kuda dan unta alat pengangkut kita sudah binasa. Banu Quraidhah telah meninggalkan kita, dan sudah kita ketahui hal-hal yang kita benci dari mereka itu. Sekarang datang pula kepada kita angin taufan yang sangat hebat, sebagaimana yang telah kamu saksikan sendiri. Oleh sebab itu, maka marilah kita tinggalkan tempat yang celaka ini”.

Dengan adanya perintah dari Abu Sufyan tersebut, maka pada malam itu juga di tengah-tengah hujan lebat dan badai itu, balatentara kaum Quraisy meninggalkan tempat tersebut dengan membawa alat-alat mereka yang dapat dibawanya.

Menurut riwayat, bahwa dikala telah terjadi perselisihan dan perpecahan diantara balatentara Ahzab, pada malam itu juga Nabi SAW menyuruh seorang shahabatnya untuk menyelidiki keadaan mereka dan apa yang akan diperbuat oleh mereka.

Menurut riwayat muslim disebutkan :

Dari Ibrahim At-Taimiy, dari bapaknya, dia berkata : Suatu hari aku sedang berada di samping Hudzaifah, mendadak muncul seorang laki-laki dan berkata, “Seandainya aku mendapati Rasulullah SAW niscaya aku akan ikut berperang dan membela beliau mati-matian”. Mendengar ucapan laki-laki itu Hudzaifah berkata, “Kamu akan sanggup melakukan itu ? Pada malam pertempuran Ahzab kami bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Malam itu angin bertiup kencang dan dingin sekali. Rasulullah SAW bersabda, “Adakah seseorang yang dapat membawakan berita musuh kepadaku, maka pada hari qiyamat kelak Allah akan menjadikan dia bersamaku ?”. Mendengar itu kami semua diam, tidak ada seorangpun dari kami yang bicara. Kemudian Rasulullah SAW kembali bersabda, “Adakah seseorang yang dapat membawakan berita musuh kepadaku, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari qiyamat kelak ?”. Kami semua diam, tidak ada seorangpun dari kami yang bicara. Kemudian Rasulullah SAW kembali bersabda, “Adakah seseorang yang dapat membawakan berita musuh kepadaku, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari qiyamat kelak ?”. Kami semua tetap diam, tidak ada seorangpun yang bicara. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda, “Berdirilah hai Hudzaifah, carikanlah berita musuh untukku”. Ketika namaku dipanggil, maka mau tidak mau aku harus melaksanakan perintah tersebut. Beliau bersabda, “Pergilah, dan bawalah berita musuh kepadaku. Dan jangan sekali-kali membuat kaget mereka”. Ketika aku beranjak dari sisi beliau sepertinya aku sedang berjalan pada air panas. Tidak lama kemudian aku pun sudah sampai di tempat musuh. Pertama-tama yang aku lihat dengan jelas ialah Abu Sufyan yang tengah asyik memanasi punggungnya dengan api unggun. Diam-diam aku mulai memasang anak panah ke busur. Aku ingin sekali untuk memanahnya. Lalu aku ingat pesan Rasulullah SAW, “Janganlah membikin kaget mereka”. Padahal sekiranya aku jadi memanahnya pasti akan mengenainya. Lalu aku kembali dan seperti ketika berangkat, aku seakan-akan sedang berjalan pada air panas. Selesai melaporkan berita musuh kepada Rasulullah SAW tubuhku terasa menggigil sekali. Melihat itu Rasulullah SAW lalu mengenakan padaku mantel yang biasa beliau pakai untuk shalat. Setelah itu aku bisa tidur pulas. Setelah pagi, aku mendengar Rasulullah SAW membangunkan aku, “Bangun hai si tukang tidur !”. [HR. Muslim, di dalam Kitab Jihad was Sair, bab Perang Ahzab, juz 3, hal. 1414]

Setelah pasukan banu Ghathafan mengetahui bahwa tentara kaum Quraisy telah meninggalkan tempat mereka dan pulang dengan terburu-buru, maka mereka pun meninggalkan tempat, pulang ke qabilah masing-masing.

Demikianlah keadaan balatentara Ahzab, sebelum mereka menyerang kaum muslimin dan kota Madinah, pada pagi harinya di tempat perkemahan mereka telah bersih, tidak ada seorang pun yang tinggal.

Waktu itu tentara Islam belum mengerti, bahwa balatentara Ahzab yang besar jumlahnya, pada malam itu telah diusir dan dimusnahkan oleh angin badai yang luar biasa itu. Tentara Islam sangat terkejut ketika pada pagi harinya melihat tempat-tempat perkemahan mereka telah kosong, tidak ada yang tertinggal selain dari tali-tali dan tenda-tenda kemah di sana-sini.

Bukan main kegembiraan kaum muslimin di kala itu, dan mereka masing-masing bersyukur kepada Allah SWT atas pertolongan-Nya.

Demikianlah akhir dari peperangan Ahzab. Ketika Nabi SAW dan balatentara Islam akan kembali ke Madinah, beliau bersabda di hadapan para shahabat :

لَنْ تَغْزُوْكُمْ قُرَيْشٌ بَعْدَ عَامِكُمْ وَ لكِنَّكُمْ تَغْزُوْنَهُمْ

Kaum Quraisy tidak akan berani memerangi kamu sekalian sesudah tahun ini, tetapi kalianlah yang akan memerangi mereka. [Al-Bidayah juz 4, hal. 99]

Yakni sesudah tahun itu, kaum Quraisy tidak akan berani lagi memerangi kaum muslimin. Karena kekuatan mereka telah lenyap musnah. Bahkan kaum muslimin yang akan memerangi mereka, insya Allah.

Demikianlah, riwayat Perang Khandaq atau Perang Ahzab yang terjadi pada bulan Syawwal tahun kelima hijriyah.

[ Brosur Ahad, 26 Agustus 2001 / 07 Jumadil tsani 1422 ]